Kenali Apa Itu Cinta Buta, dari Ciri-ciri, Risiko, hingga Cara Mengatasinya.

Myquestionsaboutlove – Jatuh cinta kepada seseorang memang sangat menyenangkan terlebih jika sesorang tersebut mencintai Sobat Belia juga.

Ketika Sobat Belia mengenal cinta, maka Sobat Belia seolah buta akan hal apapun, ini yang sering dikatakan oleh beberapa orang.

Cinta buta adalah cinta yang didasarkan pada hubungan yang lebih dalam dari sekedar ketertarikan fisik, menurut Dr. LeslieBeth Wish seorang psikoterapis dari Elitedaily.

Jika Sobat berada dalam situasi “cinta buta” dan tidak yakin apakah itu nyata atau tidak, maka berhati-hatilah sehingga tidak cinta jauh lebih dalam.

Karena jika Sobat memasuki fase di mana Sobat Belia tidak melihat apapun dan tidak melihat seseorang dari apapun walaupun sesorang tersebut melakukan kesalahan yang besar, maka Sobat Belia sudah mengalami cinta buta.

Pada dasarnya cinta kepada seseorang memang tidak boleh berlebihan dan tidak boleh mengabaikan pula.

Cinta itu setidaknya butuh tuntutan untuk menyempurnakannya, bukan hanya cinta berlebih dari satu pihak.

Sedangkan pihak satunya lagi tidak berbanding sama. Oleh karena itu perlu keseimbangan cinta.

Cintailah seseorang dengan porsi yang pas dan secukupnya jangan terlalu berlebih.

Karena pada dasarnya jika mencintai seseorang dengan porsi yang pas kecewa pun akan jarang terjadi dan harapan pun kemungkinan sedikit untuk muncul.

Risiko yang akan dihadapi ketika Sobat Belia mengalami cinta buta yaitu salah satunya Sobat akan termakan oleh ekspetaksi Sobat sendiri.

Dan Sobat Belia akan sering merasa kecewa terhadap setiap keputusan yang akan diambil karena tidak sesuai dengan harapan.Maka cintailah seseorang dengan tulus dan tidak berlebih agar menjaga diri sendiri dari harapan yang tinggi.

Ini 7 Tanda-Tanda Kamu Menjalani Toxic Relationship.

Apa itu toxic relationship?

Dilansir dari Time.com, seorang ahli komunikasi dan psikologi yang berbasis di California mengatakan toxic relationship adalah hubungan antara dua orang yang tidak saling mendukung, di mana ada konflik, di mana ada persaingan, di mana ada rasa tidak hormat dan kurangnya kekompakan. 

Ketika suatu hubungan menjadi toxic, setiap interaksi dalam hubungan itu bisa jadi terasa salah atau tidak pada tempatnya, serta dipenuhi dengan energi negatif yang membuat kedua pasangan tidak nyaman, marah, dan kecewa.

Mengapa hubungan yang sehat bisa menjadi toxic?

Hubungan yang sehat dipenuhi dengan cinta. Baik itu hubungan dengan teman baik, orang tua, atau pasangan. Hubungan seperti itu adalah sumber kebahagiaan.

Hubungan yang sehat juga dapat menghasilkan emosi yang membuat kamu merasa senang serta seakan siap menaklukkan dunia.

Jadi masuk akal jika semua orang yang memiliki hubungan sehat ingin melakukan apa saja semampu mereka, untuk menjaga hubungannya. Namun, dari waktu ke waktu, hubungan yang sehat bisa berubah menjadi berantakan.

Pasangan yang tampak seperti akan menghabiskan sisa hidupnya bersama-sama, akhirnya dapat berakhir dengan pertengkaran dan saling menyalahkan sehingga mengubah situasi yang sedang baik-baik saja menjadi sumber kebencian dan kepahitan.

Orang yang secara konsisten merusak atau membahayakan pasangannya baik sengaja maupun tidak, sering memiliki alasan untuk perilakunya, bahkan jika itu tidak ia sadari.

Alasan-alasan tersebut  bisa berada dalam hubungan antar pasangan, antar orangtua dan anak maupun antar teman. Mungkin saja penyebabnya karena ia tidak memiliki pola asuh yang mendukung dan penuh kasih sayang.

Penyebab lainnya bisa saja diintimidasi  saat masih berada di sekolah atau ia mungkin menderita gangguan kesehatan mental yang tidak terdiagnosis, seperti depresi, gangguan bipolar, gangguan makan, segala bentuk trauma. 

Adakah tanda-tanda dari sebuah toxic relationship?

Berikut ini telah kami rangkum tanda-tanda dari suatu hubungan yang toxic.

1. Saling menghindari.

Pasanganmu dulu suka menghabiskan waktu bersama dengan kamu, tetapi sekarang ia selalu mempunya beberapa alasan untuk tidak bertemu kamu dan menghindari satu sama lain.

Alih-alih ia merasa sedih dan gelisah karena ingin selalu bersama kamu. Pasanganmu justru merasa lega ketika kamu harus pergi selama beberapa hari dan tidak bersamanya.

2.Tidak merasa bahagia.

Kamu memiliki pendapat dan hal yang disukai maupun tidak sukai, tetapi kamu mendapati diri sendiri terus-menerus melakukan sesuatu hanya untuk menyenangkan pasangan, sebab kamu tidak ingin membuatnya tidak bahagia. 

Kamu sendiri merasa tidak bahagia, bahkan kamu mulai mempertanyakan semuanya dengan kalimat, “Ya Tuhan, bagaimana sekarang?”

3.Hal yang kamu lakukan selalu salah.

Pasangan kamu selalu memberikan kritik tentang segala hal. Setiap kali kamu melakukan sesuatu, ia akan menyalahkanmu jika tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan.  

Pasanganmu sering menuntut agar kamu bisa melakukan semua hal dengan lebih baik. Pada titik ini si Pasangan tidak tahu lagi bagaimana cara menghargai kamu.

4.Di matanya, kamu sudah tidak ada harga diri.

Kamu telah kehilangan jati dirimu dan dengan itu, kamu juga kehilangan harga dirimu. Bahkan kamu pun tidak ingat kapan terakhir kali kamu mengambil keputusan dalam suatu hal. Seluruh hidupmu yang sekarang adalah milik pasanganmu.

Pasangan kamu sering tidak menghormati kamu, terlebih ketika tidak ada perkelahian yang terjadi.

5.Drama tanpa henti.

Tidak peduli seberapa banyaknya drama tidak penting di hubunganmu, si Pasangan akan selalu  menemukan cara untuk memunculkan beberapa drama baru.

Drama di dalam hubungan dapat membuatmu menjadi frustrasi, takut, dan seakan ditahan. Hal tersebut, tidak pernah gagal membuat kamu merasa di dalam kondisi yang negatif.

Jika kamu merasa cemas, jengkel, atau bertengkar dengan pasangan secara rutin, pastinya kamu sedang mengalami drama dalam toxic relationship.

6.Pasanganmu mudah iri dan cemburu.

Kecemburuan dapat menyebabkan pengendalian perilaku, ancaman, atau bahkan kekerasan. Tetapi banyak yang sering mengira bahwa kecemburuan yang intens berarti si Pasangan benar-benar mencintai kamu.

Pada kenyataannya, jika pasanganmu merasa iri kepadamu dan selalu ingin tahu dimana kamu berada, jelas itu merupakan perilaku yang salah, bukan karena ia memang mencintaimu.

Misalnya, Alih-alih merayakan prestasi yang telah kamu capai, si Pasangan justru malah iri dan berharap ia bisa memiliki prestasi tersebut,  serta membuatmu merasa tidak enak kepadanya.

7.Kebohongan yang terus-menerus.

Hubunganmu telah dibumbui dengan banyak kebohongan kecil, yang disebabkan hanya karena pasanganmu tidak ingin membuang-buang waktu untuk menjelaskan yang sebenarnya kepada kamu atau bisa jadi ia hanya tidak ingin mengatakan kebenarannya.

Begitu kamu menemukan kebohongan maka akan sulit untuk kembali percaya dengan apa yang dikatakan pasangan kamu. Di titik ini, kamu mulai mempertanyakan apa yang ia katakan dan mulai mencari tahu apakah hal tersebut benar atau bohong.

Jika kamu merasakan salah satu dari tanda-tanda diatas, di dalam hubunganmu, sebaiknya kamu segera keluar dari hubungan tersebut. Jika perlu, kamu bisa meminta bantuan dari orang-orang terdekat. Semoga dapat membantu, ya!

Mitos atau Faktakah Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama.

Banyak orang yang mengaku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gebetan atau calon pasangannya. Tapi sebagian orang merasa itu hanya sesuatu yang mengada-ada alias tidak nyata. Jadi, cinta pada pandangan pertama sebenarya mitos atau fakta?

Istilah cinta pada pandangan pertama yang beredar di masyarakat sebenarnya masih keliru dan belum dapat dipahami dengan jelas. Hal ini karena saat menyebutkan cinta pada pandangan pertama banyak orang menafsirkan itu sebagai cinta yang Anda rasakan saat pertama kali melihat seseorang yang disukai.

Seorang psikolog asal Amerika mengemukakan bahwa cinta pada pandangan pertama adalah suatu perasaan yang didasari oleh nafsu pandangan pertama karena yang pertama kali dilihat oleh mata adalah penampilan fisik. Maka dari itu, bisa jadi ketertarikan fisiklah yang sebenarnya dapat muncul.

Psikolog tersebut juga mengatakan bahwa cinta yang sebenarnya membutuhkan waktu lebih lama untuk tumbuh. Jadi, perlu waktu yang cukup untuk dapat menentukan apakah itu cinta atau hanya sekadar ketertarikan fisik semata.

Cinta pandangan pertama pada gebetan atau calon pasangan hanyalah sebuah ketertarikan yang menggelora dalam hati saat itu, tetapi tidak mendalam. Oleh karena itu, selalu ada kemungkinan bahwa cinta ini tidak akan bisa dibawa ke arah hubungan yang lebih serius.

Sangat jarang terjadi pada cinta pandangan pertama bisa berlanjut ke hubungan yang lebih mendalam karena seiring berjalannya waktu, ternyata apa yang Anda pikirkan tentang seseorang tersebut bisa saja tidak sesuai dengan kenyataannya.

Pasalnya, mungkin ada beberapa pasangan yang mulanya hanya tertarik secara fisik, lalu setelah mengenal sosok satu sama lain secara lebih mendalam, cintanya terus tumbuh.

Ada beberapa tanda yang dianggap sebagai jatuh cinta pada pandangan pertama, yaitu

1. Perut terasa mual saat bertemu Si Dia
Perut terasa mual atau dikenal pula dengan istilah butterfly in the stomach (kupu-kupu dalam perut) saat bertemu Si Dia, bisa jadi salah satu tanda Anda jatuh cinta pada pandangan pertama.

Menurut para ahli, hal tersebut dapat terjadi karena perasaan manusia dapat memengaruhi sistem pencernaan. Berdasarkan hasil laporan Harvard Health, adanya hubungan pencernaan dan otak yang erat membuat Anda merasakan sesuatu pada perut ketika mengalami berbagai emosi, termasuk senang, sedih, cemas, atau marah.

Jadi, perut terasa mual atau butterfly in the stomach bisa jadi akibat campuran rasa gembira dan senang yang Anda rasakan saat bertemu seseorang yang benar-benar Anda sukai.

2. Anda ingin tahu apa pun mengenai dirinya
Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang dan rasanya ingin tahu apa pun mengenai dirinya? Jika pernah, ini merupakan pertanda baik. Kekaguman yang tulus dan pemikiran apa pun mengenai seseorang merupakan tanda bahwa Anda sedang jatuh cinta padanya saat itu juga.

Namun perlu diingat, jika tertarik pada seseorang bukan berarti Anda dan dirinya dapat menjadi pasangan yang ideal. Mencari tahu dan mengenal seseorang lebih dalam merupakan salah satu cara apakah Anda dan orang tersebut memiliki kecocokan atau tidak.

Beautiful couple with nature.

3. Dia adalah satu-satunya orang yang Anda lihat
Sebuah riset yang dipublikasikan dalam Archives of Sexual Behavior mengungkapkan bahwa ketika Anda merasa tertarik dengan seseorang, Anda ingin melihat Si Dia sesering mungkin.

Menjaga kontak mata juga bisa menjadi salah satu teknik flirting yang baik. Sebab, bahasa tubuh ini menunjukkan kalau Anda tertarik pada hal yang ia bicarakan. Jadi, mengunci pandangan pada seseorang yang disuka dapat membuat Anda merasa jatuh cinta padanya.

4. Merasa akrab
Saat mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama, biasanya Anda akan merasa seperti pernah bertemu dengan orang tersebut. Tidak ada perasaan terpaksa, semua berjalan nyaman seakan Anda sudah akrab sebelumnya.

Merasakan kenyamanan seperti ini dengan seseorang merupakan pertanda baik jika kalian berdua memiliki hubungan yang berjalan baik.

5. Tertarik dengan sikapnya
Merasa tertarik dengan sikap seseorang dapat menjadi tanda jatuh cinta, termasuk pada pandangan pertama. Misalnya, Anda tertarik pada caranya berjalan, caranya berbicara, atau cara ia bersikap pada orang-orang di sekitarnya. 

Walaupun banyak ahli menganggap ini sebagai mitos, beberapa orang meyakini bahwa cinta pandangan pertama memang benar adanya. Perasaan gembira yang membuncah dan debaran jantung tak beraturan membuat mereka yakin bahwa ia menemukan cintanya pada pertama kali melihat seseorang.

Selain itu, perasaan dejavu atau déjà vu juga bisa menyertai hal ini. Perasaan di mana Anda merasa telah mengenal orang tersebut di masa lalu, padahal jelas-jelas Anda baru melihatnya 5 detik yang lalu. Atau mungkin pada pandangan pertama Anda merasa separuh diri Anda, seperti tertarik ke arahnya layaknya sebuah magnet.

Namun, bagaimanapun juga, Anda tetap memerlukan relasi dan interaksi secara langsung untuk menentukan apakah Si Dia benar-benar sosok yang Anda cintai atau bukan.

Maka dari itu, Anda harus mengakui bahwa sebenarnya Anda tidak benar-benar mencintainya pada pandangan pertama. Harus ada relasi yang terjalin dengan baik untuk mencintai seseorang karena cinta tidak datang secara instan.

Usaha untuk mengenal seseorang dapat bersifat kognitif, yaitu berdasarkan apa yang ia katakan kepada Anda, dan emosi apa yang dia ungkapkan. Kemudian, bisa melalui nada suara, caranya berperilaku, hingga bagaimana dia menyikapi sesuatu.

Hal tersebut tidak berarti bahwa semua jenis perkenalan semacam itu diperlukan untuk “mencintai pada pandangan pertama”. Namun, untuk menegaskan bahwa itu benar-benar cinta atau bukan, tidak dapat dibatasi hanya dengan persepsi visual.

Perkenalan semacam ini membuat Anda bisa lebih banyak menilai dan mempertimbangkan banyak hal. Misalnya, apakah Si Dia memiliki selera humor yang sama dengan Anda? Apakah visi, misi, dan sikapnya sesuai dengan nilai yang Anda anut? Atau apakah Anda merasa nyaman apabila berada di dekatnya?

Evaluasi semacam itu dapat terjadi pada tahapan yang lebih dari sekadar tatapan atau pertemuan pertama. Nah, dari situlah cinta pada pandangan pertama dapat berubah menjadi lebih dalam dan berkelanjutan.