Ini Dia Arti Cinta Menurut Para Ahli.

Agar kita lebih memahami apa definisi cinta, maka kita dapat merujuk pada pendapat para ahli berikut ini:

1. Jalaluddin Rumi.

Menurut Jalaluddin Rumi, arti cinta adalah sumber dari segala sesuatu dan inti dari segala bentuk kehidupan yang ada di dunia karena dunia dan kehidupan muncul karena kekuatan yang bernama cinta.

2. Scott Peck

Menurut Scott Peck, arti cinta adalah suatu keinginan di dalam diri manusia untuk mengembangkan diri dengan maksud memelihara pertumbuhan spiritual sendiri atau perkembangan spiritual orang lain.

3. Quraish Shihab

Menurut Quraish Shihab, definisi cinta adalah kecenderungan hati manusia kepada sesuatu karena adanya kenikmatan atau manfaat yang bisa diperoleh dari yang dicintai.

4. Abdullah Nashih ‘Ulwan

Menurut Abdullah Nashih ‘Ulwan, arti cinta adalah suatu perasaan jiwa dan gejolak hati manusia yang mendorong seseorang untuk mencintai kekasihnya dengan penuh kelembutan, gairah, dan kasih sayang.

5. Musfir bin Said az-Zahrani

Menurut Musfir bin Said az-Zahrani, definisi cinta adalah suatu emosi terpenting di dalam kehidupan manusia dan menjadi faktor terpenting dalam menyatukan perasaan manusia, serta pembentukan kasih sayang di antara sesama manusia.

6. Erich Fromm

Menurut Erich Fromm, arti cinta adalah suatu perasaan simpati di dalam diri manusia yang melibatkan emosi yang mendalam. Menurut Erich Fromm, terdapat lima syarat dalam upaya mewujudkan cinta kasih, yaitu;

  • Pengenalan
  • Perasaan
  • Tanggung jawab
  • Perhatian
  • Saling menghormati

Berapakah Usia Yang Paling Tepat Anak Remaja Boleh Pacaran? Ini Kata Para Ahli!

Sebagai orangtua, Anda mungkin khawatir ketika mengetahui anak sudah mulai berpacaran. Orangtua biasanya memikirkan dampak buruk yang muncul saat anak tertarik dengan lawan jenis. Namun, bukankah anak remaja memang belum siap pacaran? Apakah mereka sebenarnya sudah bisa memahami apa itu pacaran? Simak penjelasan lengkap soal pacaran pada anak remaja di bawah ini.

Kapan anak sudah boleh pacaran?

Pada masa pubertas, yaitu usia 11 sampai 20 tahun, rasa suka atau tertarik dengan lawan jenis sudah mulai bisa dirasakan oleh remaja. Hal ini terjadi karena hormon seksual atau reproduksi meningkat.

Jika anak Anda mulai menunjukkan ketertarikan pada lawan jenisnya, hal tersebut sangatlah normal pada tahap perkembangan remaja.

Masa remaja adalah masa di mana anak memiliki rasa penasaran yang tinggi, terutama mengenai perasaan dan lawan jenis di sekitarnya.

Namun, usia anak sebenarnya tidak bisa menjadi tolak ukur yang tepat untuk menentukan kapan boleh mulai pacaran. Masalahnya, kadang usia tidak benar-benar menggambarkan kedewasaan anak.

Hal yang bisa dijadikan contoh adalah remaja berusia 15 tahun bisa saja jauh lebih dewasa daripada kakaknya yang berusia 18 tahun.

Sedangkan untuk mulai pacaran, perkembangan psikologis, kematangan mental, dan kedewasaan justru yang jadi kunci untuk membangun hubungan romantis dengan orang lain secara sehat dan bertanggung jawab.

Melihat kesiapan mental anak

Lalu bagaimana cara menilai kedewasaan dan kematangan mental anak Anda? Anda bisa melihatnya dari perilaku dan kebiasaan anak sehari-hari.

Misalnya, apakah anak bisa diberi kepercayaan untuk melaksanakan tanggung jawabnya?

Tanggung jawab tersebut bisa sesederhana membereskan kamarnya sendiri dan membantu adiknya belajar. Bisa juga soal hal-hal besar seperti kelancaran studi di sekolah serta presensi yang baik (tidak pernah membolos).

Anda juga bisa menilai kesiapan anak atau remaja untuk pacaran dengan melihat cara ia berkomunikasi, apakah sudah efektif atau belum. Misalnya kalau anak sering berbohong.

Ini berarti anak belum betul-betul memahami bagaimana caranya berkomunikasi secara jujur dan terbuka. Padahal, untuk menjalin hubungan dengan orang lain, anak harus tahu cara berkomunikasi yang baik.

Menurut para ahli, ini usia yang tepat untuk anak pacaran

Meskipun usia sebenarnya tidak bisa dijadikan tolak ukur mulai pacaran, para ahli punya saran kapan kira-kira anak boleh pacaran.

Dikutip dari Healthy Children, ada perbedaan umur yag bisa terlihat ketika anak atau remaja ingin mulai pacaran. Anak perempuan biasanya di usia 12,5 tahun sedangkan anak laki-laki berada di usia 13, tahun.

Namun, hal ini tidak seperti yang dipikirkan orangtua. Pada usia ini, remaja lebih suka pergi berkelompok karena merasa lebih aman dan tidak canggung.

Tidak hanya itu saja, mereka juga menikmati waktu kebersamaan satu sama lain.

Menurut dokter anak dari Denver Health Medical Center di Amerika Serikat (AS), dr. Ron Eagar, biasanya perkembangan psikologi remaja dan kedewasaannya sudah cukup baik pada usia 16 tahun.

Angka tersebut tentu bukanlah patokan yang harus diberlakukan pada setiap anak remaja untuk mulai pacaran.

Namun, menurut Dr. Ron Eagar, usia ini tergolong paling ideal bagi remaja untuk mulai jalan berduaan dengan pasangan.

Hal ini karena ia telah memiliki keberanian juga rasa aman yang sebelumnya belum dirasakan.

Pesan yang serupa juga disampaikan oleh seorang psikolog klinis asal AS Leslie Beth Wish. Leslie percaya bahwa anak berusia 15 sampai 16 tahun biasanya sudah mulai dekat dengan lawan jenis dan hal ini lumrah saja.

Akan tetapi, anak remaja mungkin baru benar-benar siap untuk menjalin hubungan romantis atau pacaran setelah menginjak usia 16 tahun.

Namun, ini semua kembali lagi pada kebijakan dan penilaian Anda sendiri sebagai orangtua.

Apa yang harus dilakukan saat anak mulai pacaran?

Anak remaja yang mulai pacaran jangan dilarang, tetapi justru didampingi dan diberi arahan yang benar. Ajak anak bicara dari hati ke hati untuk mengetahui konsep pacaran yang sehat.

Mengapa demikian? Terlalu mengekang justru membuat anak merasa asing dan semakin menjaga jarak dari Anda.

Lebih buruknya lagi, ada kemungkinan anak cenderung akan menjalani hubungan secara sembunyi-sembunyi, alias backstreet.

Arahan dari orangtua penting agar anak remaja yang sudah pacaran tidak mengganggu prestasi belajar anak.

Orangtua bisa memberi pengertian bahwa pacaran yang baik adalah bisa saling memberi motivasi.

Orangtua juga bisa memberi tahu anak bagaimana berlaku hormat, sopan, dan santun terhadap lawan jenisnya.

Hal ini pun berhubungan dengan pendidikan seksual yang seharusnya sudah diberikan orang tua pada anak.

Masalahnya, anak yang dilarang pacaran biasanya tetap akan berpacaran juga tanpa sepengetahuan Anda. Dengan begitu, Anda malah jadi semakin sulit memantau dan membimbing perilaku anak.

Anda cukup memberi pengertian pada anak apa saja konsekuensi dari pacaran. Misalnya apabila anak remaja sudah mulai macaran, harus bisa membagi waktu.

Waktu tersebut seperti bermain bersama teman, belajar, berkumpul bersama keluarga, dan untuk teman dekatnya tersebut. Dari situ, biarkan anak mengambil keputusan apakah saat ini pacaran adalah pilihan yang tepat atau tidak.

Risiko yang bisa terjadi dalam pacaran

Tugas Anda sebagai orang tua adalah dengan mengawasi serta membimbing anak remaja jika dia memang memutuskan untuk pacaran.

Setelah mendengarkan ceritanya, beri tahu secara jujur mengenai pendapat dan apa yang Anda rasakan. Anda juga bisa memberi aturan dan batasan mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama pacaran.

Ketika membangun suasana yang positif dan terbuka, anak akan menghargai kekhawatiran Anda. Lebih baiknya lagi, ada kemungkinan anak akan mempertimbangkan aturan dan batasan yang diberikan.

Tidak ada salahnya bagi Anda untuk memaparkan apa yang bisa terjadi ketika hubungan anak remaja saat pacaran tidak berjalan dengan baik.

Selain patah hati, Anda juga perlu memberitahu tanda-tanda apabila terjadi hubungan yang tidak sehat serta mengarah pada kekerasan.

Berikut beberapa hal yang bisa Anda jelaskan kepada anak remaja mengenak pacarana yang tidak sehat:

  • Pasangan merasa mempunyai kontrol terhadap keputusan serta mengatur hidupnya.
  • Tidak menghormati serta keluar dari batasan.
  • Mengintimidasi juga mengendalikan pasangan.
  • Selalu bergantung pada anak Anda.
  • Tidak mempunyai sikap yang sopan terhadap orangtua.
  • Terlibat dalam kekerasan fisik maupun seksual.